Rabu, 25 November 2015

DARI BENTANGAN LANGIT ala CAKNUN

DARI BENTANGAN LANGIT
Oleh :
Emha Ainun Najib

Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.
Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO, 1997.

Baca juga link dibawah ini :

IPULM2.BLOGSPOT.COM
SYAIFULM2.BLOGSPOT.COM
IPULMM.BLOGSPOT.COM
M2IPUL.BLOGSPOT.COM



BEGITU ENGKAU BERSUJUD ___ ALA CAKNUN

BEGITU ENGKAU BERSUJUD
Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki alam makrifat
Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara adzan
Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
didengar Allah, engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
Allah, engkaulah ayatullah
Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud

menjadilah engkau masjid 1987.

#Emha Ainun Najib



Baca juga link dibawah ini :
ipulm2.blogspot.com
syaifulm2.blogspot.com
ipulmm.blogspot.com
m2ipul.blogspot.com


puisi caknun_IKRAR

IKRAR

Emha Ainun Najib
Di dalam sinar-Mu
Segala soal dan wajah dunia
Tak menyebabkan apa-apa
Aku sendirilah yang menggerakkan laku
Atas nama-Mu
Kuambil siakp, total dan tuntas
maka getaranku
Adalah getaran-Mu
lenyap segala dimensi
baik dan buruk, kuat dan lemah
Keutuhan yang ada
Terpelihara dalam pasrah dan setia
Menangis dalam tertawa
Bersedih dalam gembira
Atau sebaliknya
tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu
Mulus dalam nilai satu
Kesadaran yang lebih tinggi
Mengatasi pikiran dan emosi
menetaplah, berbahagialah
Demi para tetangga
tetapi di dalam kamu kosong
Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan
Kugenggam kamu
Kau genggam aku
Jangan sentuh apapun
Yang menyebabkan noda
Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya
Berangkat ulang jengkal pertama
Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO, 1997.


ipulm2.blogspot.com/menghubungkan twitter ke facebook
syaifulm2.blogspot.com/status facebook sendiri
ipulm.blogspot.com/cara membuat status facebook sendiri
m2ipul.blogspot.com/contoh laporan kkn 
ipulmm.blogspot.com/sejarah carok
share

Facebook

twetter


Doa Sehelai Daun Kering Ala CakNun

DOA SEHELAI DAUN KERING

EMHA AINUN NAJIB


Janganku suaraku, ya ‘Aziz

Sedangkan firmanMupun diabaikan

Jangankan ucapanku, ya Qawiy

Sedangkan ayatMupun disepelekan

Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah

Sedangkan kasih sayangMupun dibuang

Jangankan sapaanku, ya Matin

Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan

Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka

Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus

Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka

Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban

Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati

Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali

Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti

Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu

Sedangkan IbrahimMu dibakar

Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut

Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian

Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir

Engkau Maha Agung dan aku kerdil

Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan

Engkau Maha Kuat dan aku lemah

Engkau Maha Kaya dan aku papa

Engkau Maha Suci dan aku kumuh

Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya

Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar

Rasul kekasihMu maĆ­shum dan aku bergelimang hawaĆ­

Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab

Wahai Mannan wahai Karim

Wahai Fattah wahai Halim

Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu

Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu

Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999.


Baca juga link dibawah ini :
#ipulm2.blogspot.com
#syaifulm2.blogspot.com
#m2ipul.blogspot.com
#ipulmm.blogspot.com



IBU, TAMPARLAH MULUT ANANK-ANAKMU_CAKNUN(Emha AinunNajib)



 Ibu, Tamparlah Mulut Anak-anakmu
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Ibu, engkau duduk di hadapanku.

Ibu jadilah hakim yang syadid, yang besi, bagi anak-anakmu.

Jika kutulis ini sebagai buku netral, pengadilan akan empuk. Setiap kata
dari beribu bahasa bisa dipakai untuk mementaskan kepalsuan. seratus ahli
penyusun kalimat bisa memproduksi puluhan atau ratusan ribu rangkaian kata
yang bebas dari kenyataan dan dari diri penyusunnya sendiri.

Kebebasan itu bisa sekedar berupa keterlepasan kicauan intelektual dari
dunia empiris, tapi bisa juga merupakan kesenjangan antara semangat
ilmu yang di antara keduanya membentang kemunafikan, inkonsistensi atau
bentuk-bentuk kelamisan lainnya.

Syair tidak bertanya kepada penyairnya.

Ilmu tidak menguak ilmiawannya.

Pembicaraan tidak menuntut pembicaranya. Tulisan tidak meminta bukti hidup penulisnya. Ide tidak kembali kepada para pelontarnya.

Ibu yang duduk di hadapanku, ini adalah kritik anak-anakmu sendiri.

Allah melaknat orang yang mencari ilmu untuk ilmu. Al-ilmu lil-ilmi.

Ilmu menjadi batu, dan para pencari ilmu menyembah bau-batu, berhalaberhala
yang membeku di perpustakaan dan pusat-pusat dokumentasi serta informasi.

Betapa penting dokumentasi, tetapi ilmu tidak dipersembahkan kepada museum
apapun, melainkan kepada apa yang bisa dikerjakan hari ini oleh para penulis
di lapangan, bukan di kahyangan.

Ibu, tamparlah mulut anak-anakmu.

Orang yang bertahun-tahun mempelajari mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan, tidak dijamin memiliki kebenaran mental untuk mengemukakan sesuatu hal itu benar dan sesuatu hal itu salah. Tinggi dan luasnya Ilmu pengetahuan seorang cendekiawan tidak menjanjikan jaminan moral. Artinya, dari kenyataan itu tercermin ketidaktahuan kemanusiaan.

Di dalam diri seseorang tidak terdapat keterkaitan positif antara, pengetahuan, ilmu, mentalitas dan moralitas.

Emha Ainun Nadjib,

Dari buku Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu - Sekelumit Catatan Harian, Penerbit
Zaituna, 2000
sumber : http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg11637.html


Baca juga link dibawah ini :

Artikel Menarik Lainnya

ipulm2.blogspot.com
syaifulm2.blogspot.com
m2ipul.blogspot.com
ipulmm.blogspot.com
m2taufiq.blogspot.com
taufiqmis2.blogspot.com
ipulm.blogspot.com
m2aja.blogspot.com
statusfacebookunik.blogspot.com



Share with Facebook, Twitter, Google Developers, Google+, Email - Chrome Web Store